Pertemuan yang Mendebarkan (Part 7)

0
Perguruan Muhammadiyah Tempurrejo, sebuah komplek yang sudah cukup umur. Jenjang pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi ada di sini. Selain pendidikan formal ada juga pendidikan non formal. Di komplek bangunan sekolah inilah aku selama tiga tahun meniti jenjang pendidikan madrasah aliyah.
Komplek ini dipisahkan oleh jalan raya Tempurrejo-Banyubiru. Deretan gedung pertama, di samping utara jalan, gedung tua bercat putih dan berjendela warna biru langit yang menjadi ciri khas bangunan komplek sekolah. Bangunan ini menjadi tempat belajar siswa-siswi madrasah tsanawiyah di pagi hari, sorenya digunakan oleh para santri madrasah diniyah. Di sebelahnya ada gedung madrasah ibtidaiyah, kondisinya masih bagus karena belum lama direnovasi. Tepat di ujung bangunan madrasah aliyah itu berdiri sebuah masjid, di depannya ada pemondokan untuk laki-laki. Pondok ini di bawah asuhan kyai Masykur.
Seberang jalan, gedung madrasah aliyah membujur dari utara ke selatan. Kondisinya juga tak jauh beda dengan gedung MTs. Model klasik, cat dinding putih dan jendela berwarna biru langit. Di depannya ada aula besar tempat untuk pertemuan-pertemuan penting. Kondisinya jauh lebih baik. Belum lama dibangun, temboknyapun belum diplester, jadi masih kelihatan batu-batanya meringis bak unggas kecil yang belum berbulu. Sebelah barat aula, gedung Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Tempurrejo (STIT) yang jarang ditemukan mahasiswa kuliah disana karena perkuliahan dipindahkan ke Mantingan. Kini, gedung STIT itu dimanfaatkan untuk ruang kelas madrasah tsanawiyah.
Beberapa kantin kecil ada di komplek ini. Selain itu, ada juga beberapa penjual makanan keliling yang mangkal. Kalau tukang bakso punya ciri khas memukul mangkok dengan sendok, penjual es kucir pikul punya lonceng bandul sapi, bakul cilok punya ciri khas suara terompet kecil yang ujungnya ada bola karet yang dipencet-pencet. Ada juga bakul kembang gula, penjual mainan, semua berhimpun berikhtiar untuk menghabiskan dagangannya mencari rezeki. Aktifitas transaksi baru terlihat padat saat jam istirahat. Sejumlah uang saku murid-murid akan berpindah tangan berganti dengan makanan dan minuman kecil pemuas lapar dan haus mereka.
Selain sebagai tempat untuk jajan, kantin juga dimanfaatkan untuk anak-anak yang malas mengikuti pelajaran sebagai tempat nongkrong. Meski berulang kali pemilik kantin mengingatkan betapa pentingnya belajar untuk masa depan, tapi masih ada saja yang nekat tetap duduk-duduk di kantin pada jam pelajaran, tanpa sedikitpun sungkan dengan nasehat pemilik kantin. Pemilik kantin akhirnya hanya diam membiarkan, toh karena merekalah yang membuat dagangan kantinnya laris manis.
Siang itu selepas rapat panitia perkemahan, aku sudah niatkan untuk mengisi perut di kantin Pak Nur Petok. Tidak langsung masuk kelas meski jam pelajaran sedang berlangsung. Pasti guru sudah memaklumi karena sedang mengikuti rapat. Sejak pagi perutku memang belum terisi apa-apa selain sepotong jadah ketan yang semalam aku bawa dari undangan tahlilan tetangga pondok. Tadi sebenarnya sarapan sudah disediakan oleh teman-teman pondokku yang giliran piket masak. Tapi naas nasibku tidak kebagian lauk tempe goreng secuilpun. Yang tersisa hanya sepiring nasi kerak intip yang sudah gosong. Begitulah yang biasa terjadi di pondok. Jika telat sedikit saja untuk makan bersama, maka alamat tidak dapat jatah bagian makan.
Aku keluar dari ruang sekretariat setelah kubereskan semua berkas-berkas kegiatan tahun lalu. Sudah menari-nari di pelupuk mataku segelas es sirup berwarna hijau yang segar, yang sisi luar gelasnya sampai berembun karena saking dinginnya. Beberapa potong bakwan dan tahu isi pasti menambah gairah untuk tidak berhenti melahapnya. Hmmm… aku bergegas menuju kantin. Perut sudah semakin merdu mendendangkan lagu keroncong.
Kantin sepi. Hanya ada seorang siswa putih abu-abu. Aku kenal dia meski duduknya membelakangi pintu masuk kantin. Itu Bismo. Wajar saja kantin sepi, ini jam pelajaran, semua siswa sedang di kelas. Hanya pengurus IRM dan panitia perkemahan saja yang dapat izin untuk rapat tadi. Usai rapat beberapa anak langsung kembali ke kelas. Namun ada juga yang ke kantin dulu termasuk aku. Bismo tidak menyadari kedatanganku, sementara Pak Nur sibuk menata dagangannya. Aku langsung pesan es sirup dan nasi sederhana. Biasanya lauknya terik tempe campur ikan teri dan mie bihun serta sambal. Di beberapa kota nasi ini sering disebut sego kucing.
Pak Nur dengan gesit menyiapkan apa yang kupesan. Tidak sampai dua menit, es sirup dan sebungkus daun pisang nasi sederhana di atas piring terhidang dihadapanku.
“Makan Mo.” Basa-basiku pada Bismo.
“Eh kamu… iya monggo-monggo.” Jawab Bismo kaget sambil menoleh ke arahku. Kali ini dia bertutur santun. Tidak seperti tadi saat di ruang IRM.
Aku tidak peduli lagi. Air liurku meleleh. Langsung kuserbu sarapanku yang kesiangan tanpa ampun. Benar-benar nikmat kalau lagi lapar. Aku lupa apakah tadi sempat membaca doa sebelum makan atau tidak. Padahal doa itu sudah kuhafal sejak masih di TK. Entahlah. Kusambar lagi sepotong tahu isi dan bakwan. Dalam waktu sekejap piring sudah bersih. Kini beralih ke segelas es sirup yang kusedot. Keringat membasahi wajah dan leherku. Ku seka saja dengan lengan bajuku.
Perut terganjal sudah. Kusandarkan tubuhku ke dinding kantin. Nafasku terasa agak berat sehabis makan. Aku akan ke kelas lima menit lagi. Begitu pikirku. Aku lihat Bismo masih duduk santai. Masih membelakangiku. Sesekali dia terbatuk. Seperti orang tersedak. Lama kelamaan batuknya makin sering. Aku perhatikan Bismo menutupkan telapak tangannya ke mulut, lalu terbatuk. Seketika asap menyembul berhamburan diterpa udara. Aku coba melihat lebih seksama. Benar saja, ini bau asap rokok. Ya ampun, sejak kapan Bismo doyan merokok. Sejak kenal Bismo dari kelas satu aku belum pernah melihat dia menghisap rokok. Baru kali ini aku melihatnya. Waktu bersama-sama ikut Yasinan di rumah Bu Diah saja, aku jelas-jelas melihat dia menolak mentah-mentah tawaran rokok yang diberikan padanya.
Bismo terus terbatuk-batuk. Sepertinya dia sangat tersiksa. Dia coba menghisap lagi rokoknya. Dan, batuknya semakin parah. Dia lari keluar kantin. Sampai di luar langsung muntah-muntah. Aku bergegas mendekati Bismo. Kupijit leher dan tengkuknya.
“Kamu nggak apa-apa Mo?” tanyaku panik.
“Nggak apa-apa, udah biarin saja.” ujar Bismo sambil menggeleng. Jemari tangannya kanannya masih menjepit batang kretek yang masih mengepul.
Aku masuk lagi ke kantin. Mengambil air putih dari galon yang tersedia gratis.
“Minum dulu Mo.” Kusodorkan segelas air putih untuk Bismo. Tanpa berkata lagi Bismo meraih dan langsung meminumnya.
“Kamu sakit Mo? Atau kaget karena baru pertama kali merokok?” kulihat Bismo matanya memerah. Di sudutnya ada titik air mata yang hampir menetes.
Bismo hanya menggeleng. Dia berdiri hendak masuk ke kantin. Puntung rokok ditangannya dia banting ke tanah lalu di injaknya. Aku mengikuti masuk ke kantin. Bismo kembali duduk di tempat semula. Diambilnya tissue untuk mengelap mulut dan sudut-sudut matanya yang basah.
“Mad.”
“Iya Mo kenapa?” kali ini aku duduk semeja dengan Bismo.
“Tadi udah kamu kasih ke Dita?” Bismo terlihat lebih tenang.
“Udah tenang aja. Apaan Mo tadi itu? Surat cinta ya?” tanyaku menyelidik.
“Ah mau tau aja urusan orang.” Jawanya ketus.
“Alaahhh… pakai nggak ngaku lagi. Aku tahu, aku tahu… rupanya kamu kesengsem sama Dita ya… Tapi, ya udahlah nggak ada untungnya juga buat aku. Tapi anehnya kenapa kamu nggak berani memberikan secara langsung ya? Eh kata orang-orang, cewek itu sukanya cowok yang gentle. Nggak cemen kayak kamu itu Mo. Kalau suka bilang aja langsung sama yang bersangkutan.”
“Nggak usah sok menggurui kayak gitu deh. Kayak udah pengalaman aja kamu ini.”
“Hehehe…”
“Eh, emang Baron itu udah jadian ya sama Dita? Hampir tiap hari aku lihat mereka itu selalu saja bersama-sama?”
“Kok aku nggak pernah lihat ya? Aku nggak tau Mo, itu kan urusan pribadi orang lain. Ngapain aku ikut campur.”
“Masa nggak tahu. Kamu kan teman sepondok sama Baron?”
“Waduh-waduh interogasi nih ceritanya. Baron nggak pernah cerita Mo kalau masalah itu. Dia kan orangnya gampang bergaul sama siapa saja Mo. Lha wong sama Mbah Sainah yang janda kidul pondok saja dia akrab lho Mo. Hehehe…”
“Uhuk…uhuk…” Bismo masih terbatuk. “Eh, Mad, kamu jangan bilang-bilang aku ngerokok ya. Awas lho.” Bismo mengepalkan tangan kanannya di arahkan ke mukaku.
“Ceilah… takut amat. Kalau ngerokok ya ngerokok aja nggak usah takut. Lagian ketahuan banget baru sekali nyicipi rokok. Orang yang biasa ngerokok itu nggak batuk-batuk kayak gitu Mo, apalagi sampai muntah-muntah sambil nangis.  Satu lagi Mo, cewek itu nggak suka cowok perokok.”
“Udah diam! Nggak usah ceramah kayak gitu. Kalau mau ceramah nanti malam aja acara jami’atul khithobiyah.”
“Wah pas banget Mo, nanti malam jadwalku yang tampil. Nanti datang ya. Aku mau bawain materi tentang rokok dan bahayanya. Hehehe…
“Alaaah bisa-bisanya kamu ini.”
“Eh Mo, kenapa sih dulu kamu naikin BMX-nya Baron ke pohon waru? Cemburu sama Baron ya? Hehehe… Bismo, Bismo, kalau suka sama Dita emang harus siap patah hati Mo, dia banyak yang naksir. Nanti jangan-jangan sepeda motor yang kamu naikkan ke atas genteng… Hehehe… berat Mo. ”
Tangan Bismo menyambar koran bekas di meja kantin. Digulungnya cepat-cepat. Bletak… dipukulnya kepalaku tepat sasaran.
“Rasain tuh… disuruh diam malah ngoceh.”
Aku tidak merasa sakit. Yang ada justru aku sulit menahan tawa. Aku merasa bisa mengunci mati obrolan kali ini. Aku beranjak berdiri. “Masuk kelas yuk Mo. Di sini sepi. Di kelas kan ada Dita. Bisa curi-curi pandang Mo. Hehehe…”
Pak Nur masih sibuk dengan dagangannya. Aku dekati beliau. Tanganku meraba-raba ke saku celana mencari lembaran rupiah untuk membayar apa yang sudah kumakan.  Saku kiri kosong, saku kananpun kosong. Waduh. Saku celana belakang juga tak sepeserpun ku temukan. Di saku baju juga tidak ada uang. Masya Allah, aku tidak bawa uang sekepingpun. Aku panik bercampur malu. Bagaimana harus ku katakan pada Pak Nur. Selama ini belum pernah aku ngutang. Bagaimana ini? Dalam kebingunganku aku pura-pura bertanya pada Pak Nur.
“Pak sampun, tambah tahu sama bakwan, pinten sedoyo?”
“Nasi seribu. Es tiga ratus. Gorengan tiga ratus. Semua jadi seribu enam ratus.” Jawab Pak Nur tanpa memperhatikanku.
Glek… aku menelan ludah. Sebenarnya tanpa bertanyapun aku sudah tahu berapa yang harus kubayar. Bismo yang memperhatikanku, sepertinya faham kondisiku.
“Kenapa kamu ini? Nggak punya duit?”
“Hehe… iya Mo. Duitku ketinggalan Mo. Pinjem dulu dong Mo buat bayar. Nanti aku ganti.”
“Huuuu… dasar miskin. Udah nggak usah minjem, aku yang bayar, semua berapa?” Bismo merogoh sakunya. Dompetnya terlihat tebal. Dikeluarkannya selembar puluhan ribu dan disodorkan pada Pak Nur.
“Pak ini sekalian berdua.”
 “Waduh Mo jadi nggak enak aku.”
“Udah nggak usah dipikirin. Ini mumpung aku lagi baik hati. Kalau nggak, bodoh amat urusan orang.”
Dalam hatiku bersyukur meski aku menunjukkan sikap sungkan. Dalam hati juga berfikir, ternyata Bismo anaknya baik. Tidak seperti anggapanku selama ini. “Wah, matur suwun lho Mo. Kamu ini Mo, udah ganteng baik hati lagi. Sering-sering aja traktir teman kayak gini Mo.”
Plak… sekali lagi Bismo memukulku dengan gulungan koran. Kali ini agak pelan di punggungku.
“Udah yuk masuk kelas.” Ajak Bismo.
“Ayuk Mo.”
Bismo merapikan uang kembalian dan memasukkannya ke dompetnya. Aku dan Bismo berbalik hendak keluar kantin tiba-tiba…
“Bismo! Aku mau ngomong!”
Bismo terhenyak. Kakinya kaku memaku bumi seperti lumpuh. Dia tergugup. Suara itu membuat Bismo seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Tubuh Bismo gemetar panas dingin. Detak jantungnya meningkat hingga nafasnya tak beraturan. Sosok yang kini di hadapannya begitu mengejutkannya. Akupun hanya terdiam menyaksikan kekakuan ini. Sayup-sayup suara terompet bakul cilok terdengar melankolis, seakan mengiringi suasana syahdu di siang terik itu.