Tempurrejo Love Story Part 6

0
FIRASAT CINTAKAH?
Di sebuah ruangan sempit berukuran 2 x 6 meter itulah sekretariat IRM. Letaknya persis di tengah-tengah antara ruang perpustakaan dan ruang kelas. Ruangan itu memiliki dua buah pintu, satu di depan dan satu di belakang. Dua pintu itu terlihat sangat sederhana dan tampak natural tanpa adanya setetespun cat yang mempercantiknya. Tak ada jendela untuk ventilasi hingga udara terasa sangat pengap. Membentang hampir memenuhi ruangan, sebuah meja besar. Di kiri kanan meja itu ada dingklik panjang. Sedangkan di pojok belakang ada sebuah lemari usang dengan gembok besar yang mengunci rapat-rapat pintunya. Di dalamnya tersimpan arsip-arsip penting seputar kegiatan IRM. Ada juga sebuah radio tape portabel bermerk Tens dan sebuah mesin ketik yang sudah waktunya untuk dimuseumkan. Beberapa tutsnya sudah tak berhuruf. Meskipun kondisinya sudah sangat udzur, namun  peralatan itu masih sangat dibutuhkan setiap kali akan mengadakan agenda-agenda krusial. Jika sedang dipakai, mesin tulis yang konon ditemukan oleh Christopher Latham Sholes itu suaranya sangat nyaring, mengungguli suara mesin ketik di kantor-kantor kelurahan.
Tempat sempit itulah yang menjadi kebanggaan para anggota IRM. Hampir semua event-event besar terlahir dari ruang mungil itu. Ide-ide segar bermunculan dari markaz itu. Termasuk hari itu, sedang digelar rapat untuk sebuah agenda rutin tahunan : perkemahan kepanduan hizbul wathan.
Beberapa posisi penting kepanitian memang harus dipegang oleh pengurus inti. Tetapi untuk seksi-seksi yang lain biasanya dibentuk berdasarkan rapat semua anggota IRM. Siang itu ruangan itu begitu penuh. Hampir semua anggota IRM dan panitia perkemahan hadir memenuhi ruangan itu. Semuanya adalah siswa-siswi kelas dua.
Seharusnya rapat dipimpin langsung oleh Dani, sang ketua IRM. Namun, karena Dani sedang ada kegiatan Saka Bhayangkara di Polsek Walikukun, maka yang memimpin rapat adalah Rina, sekretarisnya. Agenda rapat panitia itu adalah melaporkan persiapan awal seksi-seksi. Beberapa seksi memang sudah mulai bekerja. Seksi acara, seksi humas, perlengkapan, P3K, seksi dokumentasi semuanya hadir khidmad dengan persiapan masing-masing.
“Gendon, bagaimana hasil survey kemarin?” Tanya Rina mengawali pembicaraan. Gendon yang menjadi seksi acara sibuk membuka-buka catatannya.
“Kemarin sih sudah ok. Kita kesana sekalian dengan seksi humas mengantarkan surat izin pada Pak Lurah Jamus. Lapangannya cukup representatif walaupun ada beberapa titik yang tidak rata tanahnya. Tapi itu bukan masalah. Nanti biar peserta yang mengupayakan sendiri kenyamanan tendanya. Akses ke masjid juga dekat, paling sekitar seratus meter dari lapangan. Rute penjelajahan juga sudah kita lihat. Sesuai dengan rencana awal, dari lapangan arahnya turun ke bawah ke arah Desa Ngrendeng. Nanti pos satu dan pos dua masih di zona kebun teh. Ini track yang lumayan berat. Karena peserta akan kita lewatkan di jalur tebing yang cukup curam.”
“Apa itu tidak beresiko tinggi?”
“Iya, resiko itu pasti, tapi saya berani menjamin keamanannya asalkan semua peserta mengikuti instruksi yang kita berikan.”
“Ok sip. Lanjutkan.”
“Baik, untuk pos satu kita akan isi dengan materi kepanduan dan baris berbaris. Nanti pak Agus yang akan jadi pembina di pos satu. Pos dua materi kepemimpinan, pembinanya pak Sugeng. Di pos tiga lokasinya sudah masuk di pemukiman warga. Tepatnya di halaman masjid Al Ikhlas. Materinya tentang keislaman, dilanjutkan dengan istirahat makan siang dan shalat dhuhur masing-masing kelompok. Irfan juga sudah menyampaikan surat izin ke takmir masjid. Iya kan Fan?” Gendon mengakhiri penjelasannya sembari menatap ke arah Irfan.
“Nggggg…. eh… iya… iya… surat-menyurat semuanya sudah tersampaikan dengan tiada halangan suatu apa.” Irfan terlihat agak gugup. Dari awal rapat dimulai dia asyik mengobrol dengan Risma tanpa mempedulikan situasi.
“Terus Pak Lurah apa bisa hadir menyampaikan sambutan saat pembukaan nanti?”
“Insya Allah bisa Rin. Kemarin aku bertemu langsung dengan beliau. Kalaupun tidak bisa hadir, pasti ada yang menggantikan.” Kata Irfan sambil membenahi letak kacamatanya. Irfan memang pas jadi seksi humas. Dia pandai berdiplomasi dan tutur katanya halus saat berhadapan dengan siapapun. Termasuk para pamong desa.
“Bagus. Silahkan lanjutkan dulu seksi acara.”
“Nah setelah selesai istirahat dan shalat dhuhur. Perjalanan dilanjutkan lagi, arahnya kembali pulang ke lokasi kemah. Ada dua halang rintang di jalur ini. Yaitu melewati sawah dengan track berlumpur dan menyebrang sungai. Setelah itu baru masuk pos terakhir yang akan diisi dengan materi kreasi seni. Di pos ini semua kelompok bisa membuat berbagai macam bentuk karya seni dengan bahan-bahan yang sudah kita siapkan. Di sini berbeda dengan pos satu dan dua yang boleh menggertak atau memplonco peserta. Pos terakhir ini sifatnya fun. Ya semacam edu-games gitu, karena mempertimbangkan kondisi peserta sudah kelelahan. Dari pos terakhir ini nanti pulangnya akan melewati hutan pinus. Sambil pulang, semua regu wajib mengumpulkan kayu bakar dari ranting-ranting pinus yang sudah kering. Ini untuk bahan bakar api unggun di malam puncak penutupan. Saya perkirakan sampai di tenda kembali sekitar jam empat sore. Itu saja Rin persiapan kita. Tapi segala sesuatunya sudah siap.”
“Untuk penanggung jawab di pos apa sudah ditunjuk?” tanya Rina.
“Oh iya… sudah Rin. Di pos satu saya sendiri sama Sarah. Di pos dua Mas Dani dengan Adel. Pos tiga dijaga oleh Franky sama kamu Rin. Lalu pos terakhir sapu jagad, semua penanggung jawab pos sebelumnya saya harap bisa berkumpul, tapi nanti ada Dennis yang jadi PJ-nya. Terus penyambutan kepulangan di tenda sekretariat oleh Bismo sambil meminta tugas-tugas yang sudah diberikan di setiap pos. Saya rasa begitu. Silahkan kalau ada tambahan dan masukan dari teman-teman.” Gendon menutup buku catatannya, kepalanya mengangguk-angguk sendiri seperti seorang pelayan resto yang sedang menawarkan sesuatu.
“Baik, baik. Nanti usulan-usulan kita tampung di akhir. Sekarang bagaimana persiapan seksi perlengkapan?”
Baron sebagai koordinator seksi perlengkapan sebelum mulai berbicara mengitarkan pandangannya ke seluruh peserta rapat. Dia melihat ke arah Nanda dan Dita yang duduknya mengapit Rina. Mereka duduk persis di depannya. Baron juga melihat ada Bismo yang duduk di sampingku. Ada sedikit perasaan grogi yang memberatkannya untuk memulai bicara. Tapi dengan cepat dia menguasai keadaan dan memulai bicara.
“Okey… sejauh ini persiapan kita belum optimal. Aku belum dapat sewaan lampu penerangan dan mesin diesel untuk malam hari. Termasuk juga sound sistem. Tapi alternatifnya kita bisa pakai sound IRM ini.” Baron menghentikan bicara sambil menunjuk radio tape di sebelah lemari.
“Kalau tenda buat panitia bagaimana?” Tanya Rina
“Sudah ada dua tenda besar. Satu punya sekolah kita, satu lagi saya pinjam dari MI Kedunggudel.”
“Waktunya tinggal sepuluh hari lagi lho ya, jadi tolong diupayakan sesegera mungkin.”
“Iya Rin, nanti siang saya bergerak lagi mencari lampu penerangan”
“Baik yang lainnya?”
Semua seksi akhirnya menjelaskan panjang lebar terkait dengan rencana kegiatan itu. Nanda dan Risma kebagian menjadi seksi konsumsi. Dengan gamblang Risma memaparkan kebutuhan-kebutuhan belanja dapur hingga menu makan untuk panitia dan para guru.
“Wah, belum apa-apa aku sudah membayangkan betapa nikmatnya menu itu. Kita ini kemah lho bukan untuk tamasya.” Seru Rina.
“Tenang aja Rin. Itu menu sederhana, tidak akan boros kok. Kan kita punya koki handal. Di asrama dia paling jago masak-memasak.” Kata Risma sambil memberi isyarat ke arah Nanda dengan menaik turunkan alisnya.
Nanda diam saja tak bereaksi. Dia lebih banyak menunduk. Di hadapannya ada Baron, dia malu. Begitulah sikapnya setiap kali berhadapan dengan Baron, orang yang diam-diam sangat dikaguminya. Sejatinya ada perasaan bahagia yang membuncah dalam hatinya saat dirinya dekat dengan Baron. Namun sekuat tenaga rasa itu dia simpan dalam hatinya. Dia khawatir perasaannya akan melahirkan sikap salah tingkah hingga membuat suasana rapat jadi tidak nyaman. Maka ia hanya tertunduk. Ada sebersit harapan Nanda, hati Baron bisa menangkap getar-getar halus dalam hatinya. Meski sebenarnya dia sadar harapan itu sepertinya tinggal harapan. Karena dia tahu, orang yang sangat diharapkannya itu tidak membalas kekagumannya. Justru Baron lebih perhatian kepada sahabatnya sendiri, Dita. Tapi, apakah Baron benar-benar suka dengan Dita? Dita sendiri selalu mengelak kalau ditanya tentang perasaannya terhadap Baron. Apa benar cerita Gendon dan Dennis mengenai Baron yang mengharapkan Dita? Ah, jangan-jangan ini hanya ulah Gendon dan Dennis untuk memanas-manasi hatinya? Atau jangan-jangan ini akal-akalan Baron untuk menguji perasaannya? Atau jangan-jangan hatinya tak mampu menangkap sinyal cinta dari Baron karena sudah tertutup oleh perasaannya yang terbakar cemburu. Kenapa tidak ditanyakan langsung saja ya pada Baron? Tapi bagaimana bisa bertanya langsung kalau bertemu saja sudah pasti tertunduk malu. Lha kan bisa minta tolong sama Dita untuk bertanya. Aduh, kenapa mesti Dita lagi sih? Lamunan Nanda berputar-putar tidak karuan hingga suara Rina membuyarkannya.
“Okey… sekarang seksi P3K gimana?”
Kini giliran Ratih yang mengurusi masalah kesehatan bersama Dita yang menguasai forum. Anggota saka bakti husada itu memang selalu ditunjuk untuk masalah P3K. Sementara Bismo jadi penanggung jawab masalah keamanan. Aku dan Fikri dapat tugas untuk mengurus akomodasi dan dokumentasi. Aku sudah menyewa tiga buah truck untuk mengangkut peserta dan panitia pada hari keberangkatan. Sekaligus untuk penjemputan nantinya. Kamera manual 10 megapiksel juga sudah kupinjam dari Pakdheku untuk dokumentasi. Anggaran awal yang diberikan sudah habis aku pakai untuk uang muka sewa truck dan membeli dua roll film negatif. Rina mengangguk-angguk mendengar penjelasanku. Tanda setuju.
“Okey saya rasa sudah cukup rapat hari ini. Insya Allah nanti tiga hari lagi kita berkumpul lagi di sini untuk koordinasi perkembangan selanjutnya.” Rina melirik jam tangannya.
“Satu lagi Rin.” Potong Gendon.
“Ya silahkan.”
“Untuk acara api unggun konsepnya masih mentah. Kita punya dua malam untuk acara api unggun. Malam pertama, malam Sabtu beberapa opsi acara masih kita godog. Sedang malam Minggunya rencananya akan kita isi seperti acara perkemahan tahun-tahun sebelumnya yakni pementasan kreasi seni setiap regu. Saya minta masukan dari teman-teman untuk mengisi acara.”
“Baik, saya rasa seksi acara bisa berdiskusi dulu dengan timnya. Nanti kita bahas di rapat berikutnya.” Kata Rina yang sudah berkali-kali melihat jam di tangannya. Sepertinya dia terburu-buru ingin menyudahi rapat.
“Begitu ya. Ingat, kita ini tim. Jadi, saya berharap kita bisa berkerja sama dengan sebaik-baiknya sejak kepanitiaan terbentuk hingga nanti dibubarkan. Bila ada kesulitan-kesulitan segera sampaikan ke saya atau langsung ke Mas Dani. Atau kalau sudah buntu kita konsultasikan ke Pak Sugeng selaku pembina HW. Saya kira begitu, mari kita akhiri rapat kita kali ini dengan membaca hamdalah bersama. Alhamdulillahirabbil ‘alamiin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Rina menutup rapat dan beranjak berdiri meninggalkan ruangan diikuti beberapa yang lain. Sementara sebagian yang lain masih tetap di ruangan berkoordinasi dengan timnya. Kini ruangan itu terasa sedikit lebih longgar. Bismo yang sedari tadi duduk di sampingku berdiri mau keluar, tapi tiba-tiba dia mencolekku sambil menyodorkan selembar amplop. Tangannya menarik lenganku dengan kasar dan mendekatkan wajahnya ke telingaku.
“Heh… kasih ini ke Dita sekarang.” Kata Bismo berbisik. Sepertinya dia khawatir terdengar oleh yang lain.Tatapan matanya tampak tidak bersahabat.
“Apaan ini Mo?” Tanyaku santai.
“Sstttt… udah nggak usah tanya, kasih aja pokoknya.” Kata Bismo sambil melepaskan lenganku dan melangkah ke luar.
“Huuuu… dasar pengecut, cuma ngasih gini aja nggak berani.” Kataku meneriaki Bismo. Semua yang ada di ruangan menatap kepadaku.
“Ada apa Mad?” tanya Ratih penasaran.
“Nggak ada apa-apa. Bismo tuh aneh. Minta tolong tapi nggak ada sopan santunnya. Dita, nih dikasih Bismo barusan.” Aku beranjak menyodorkan amplop itu.
“Apaan itu?” tanya Dita menyambut uluran tanganku.
“Yeee… mana aku tahu. Lihat aja sendiri.” Jawabku sembari mengangkat bahu.
“Cie cieee cieeee… ada susuatu nih…” Ratih menggodai Dita.
“Ih… apaan sih kamu Rat.”
“Ehmm ehmmm…” Ratih berdehem masih dengan maksud menggodai. “Penasaran, coba lihat.” Kini Ratih malah mencoba merebut amplop itu dari Dita. Dengan sigap Dita segera menyembunyikan kertas itu di saku bajunya.
“Ah kamu Dit, pelit.”
Dita tidak menjawab. Wajahnya tampak memerah tersipu. Benar saja kata teman-teman. Dita itu cantik, sangat cantik bahkan menurutku. Kalau saja para siswi dari kelas satu sampai kelas tiga itu semua mengikuti kontes kecantikan, maka dialah yang menjadi ratunya. Sosoknya anggun memesona siapapun yang melihatnya. Hatiku berdesir. Aku berdiri mematung dan mulai berandai-andai. Astaghfirullah, aku tersadar dari fikiranku. Segera kurapikan berkas-berkas kegiatan tahun lalu yang tadi ku ambil dari lemari sebelum rapat dimulai. Dokumen itu aku butuhkan untuk bahan perbandingan dengan kegiatan sekarang. Aku merasa Dita mengawasi gerak-gerikku. Aku tidak berani menatap ke arahnya. Oh tidak, aku masih terbawa lamunan.
Bersambung
Karakter
Baron panggilan untuk  Bahruddin Roni; Franky panggilan untuk Bagus Anggito; Gendon panggilan untuk Sutarman; Dennis Ardiansyah; Bismo Ari Waskito; Ketua IRM Muhammad Ramdani dipanggil Dani; Irfan Abdurrahman; Fikri Jaelani; Pak Soleh guru Biologi; Pak Agus guru olahraga; Pak Sugeng guru matematika sekaligus pembina HW; Mbah Parni juru kunci dan kebersihan; Mbah Sur pemilik musolla;
Dita Prameswari; Nanda panggilan untuk Safira Nanda; Abil panggilan untuk Salsabila Putri; Risma Firdayanti; Ratih Widowati; Sekretaris IRM Rina Handayani; Sarah Habibah; Adelia Rizky; Bu Diah pemilik sawah; Pak Nur Petok pemilik kantin.
Iklan