Unromantic Tempurrejo

Pagi itu, jalanan Tempurrejo masih lengang. Dari pertigaan Tretes terlihat Gunung Lawu masih dengan anggunnya memamerkan kecantikannya. Sesekali terlihat ibu-ibu melintas dengan sepeda berkeranjang di boncengan, yang  penuh dengan dagangannya. Tujuannya satu, Pasar Bandung. Dari wajah mereka terlihat gurat-gurat semangat hidup, meski sebagian sudah mulai keriput. Namun, karena hampir setiap pagi mereka mengayuh sepeda Unto-nya, membelah halimun pagi, maka yang nampak hanyalah raut-raut kesegaran dan kebahagiaan. Memang disadari atau tidak, ini menjadi sarana olah raga untuk kebugaran mereka. Dan saat melintas di depan perguruan Muhammadiyah Tempurrejo, mereka seolah tersenyum, teringat anak-anak mereka yang tadi berangkat sekolah bersamaan dengan keberangkatan mereka ke pasar. Berharap, masa depan anak-anak mereka tak seperti orang tuanya.
Di komplek sekolah Muhammadiyah Tempurrejo juga masih sepi. Tetapi, sayup-sayup terdengar suara sapu lidi bergesekan dengan halaman yang penuh dengan sampah dedaunan. Pastilah itu Mbah Parni (Allah yarham, kami mendoakan agar Allah mengampuni, menyayangi dan mengangkat derajatmu Mbah –Amiin) yang sudah beraktifitas membersihkan halaman sekolah dibantu oleh para asistennya. Suara sapu itu syahdu mengalun seperti suara kontemplasi jiwa yang menentramkan. Memang beliau yang bertanggung jawab dengan kebersihan lingkungan sekolah. Jadi, setelah shalat subuh beliau sudah mulai bekerja, beradu cepat dengan burung Gereja yang masih enggan berkicau, beradu cepat dengan ibu-ibu pedagang pasar Bandung, beradu cepat dengan kedatangan para siswa. Dan tentunya, mengalahkan anak-anak pondok yang punya kebiasaan “mbangkong” selepas subuh. Hingga tak jarang mereka telat masuk sekolah karena bangun kesiangan.
Perlahan, seiring dengan selesainya Mbah Parni dengan rutinitasnya, sekolah mulai menampakkan geliatnya. Para siswa mulai berdatangan. Tidak hanya seragam abu-abu putih, biru putih dan putih-putihpun mulai berseliweran. Aliyah, Tsanawiyah dan Ibtidaiyah dalam satu zona membuat nuansa pendidikan sangatlah kental. Roman merekapun beragam. Ada yang piket sibuk membersihkan kelas, ada yang bercanda ria dengan teman sejawatnnya, ada pula yang serius membuka buku catatan temannya untuk meminjam jawaban PR. Ckckck. Siswa-siswi MI lebih aktif lagi. Sepagi itu, ada saja yang sudah ngos-ngosan dengan keringat bercucuran main kejar-kejaran. Anak yang kalem lebih memilih warung daripada kejar-kejaran. Walhasil, tangan kanan memegang setusuk cilok yang berlumuran saus, tangan kirinya menenteng sebungkus plastik minuman berwarna cerah.
Aku perhatikan satu per satu anak demi anak, teman-temanku belum muncul juga. Baron, Franky, Gendon dan Dennis tak satupun kelihatan. Dari ujung rumah Mbah Sur yang biasanya Gendon lewat situ, yang muncul justru para siswi dari Asrama Putri yang asyik membicarakan insiden BMX naik pohon Waru seminggu yang lalu. Dari arah Banyubiru Franky juga tidak muncul, yang ada malah ibu-ibu mengayuh sepeda Unto pulang dari pasar Bandung. Namun dari ujung jalan arah matahari terbit, si Dennis dengan langkah gagah seorang tentara, sudah terlihat. Aku sumringah menyambutnya.
Buru-buru aku menyapa sedikit berteriak, “Bro, buruan dong.”
Ia tak menjawab. Hanya lambaian tangan yang membalas. Baru setelah dekat Dennis bertanya, “Ada apa bro, kok kelihatannya gak enak banget mukamu?”
“Anak-anak belum pada nongol. Pada kemana ya?”
“Gatau. Emang napa?”
“Gapapa sih. Cuma aneh aja. Kan biasanya mereka rajin bro.”
“Alah biarin deuh, nanti juga dateng. Udah yuk ke kelas tuh dah bel.”
“Ayuk lah.”
Di kelas.
Baron, Gendon dan Franky belum hadir juga. Bangku mereka kosong. Masih beruntung, meski bel masuk sudah lima belas menit berlalu, guru juga belum ada. Aku dan Dennis mulai cemas. Berharap tidak terjadi apa-apa terkait dengan insiden BMX yang lalu. Sebab kemarin, Baron menerima sepucuk surat kaleng yang berisi ancaman dan tantangan. Sementara di luar, terdengar suara sepatu pantopel melangkah kian mendekat. Aku yakin itu pasti langkah guru. Wah celaka, kalau sampai guru sudah masuk kelas dan mereka telat masuk, pasti keanehan ini akan terdeteksi oleh guru.
Dan benar saja, pak guru biologi dengan seragam safari masuk ke kelas sambil mengucap salam.
“Assalamu’alaikum…”
Serempak semuanya menjawab, “Wa’alaikumussalaaaaaaaaaaam warahmatullaaaahi wabarokaaaaaaatuh…”
Setelah membuka kelas dengan do’a dan pengantar seperlunya, pak guru mulai memperhatikan tiga bangku yang kosong. Tatapannya penuh curiga. Aku dan Dennispun mulai cemas. Hmmm… semoga saja prediksi buruk itu tidak terjadi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s