MENGAPA KITA BERQURBAN

1

Qurban dalam bahasa Arab artinya dekat, ibadah qurban artinya menyembelih hewan sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah qurban disebut juga “udhiyah” artinya hewan yang disembelih sebagai qurban. Firman Allah Swt. :

 

Maka dirikanlah shalat untuk Tuhanmu dan menyembelihlah”. (QS AlKautshar)

Keutamaan qurban dijelaskan oleh sebuah hadist A’isyah, Rasulullah s.a.w. bersabda :

 

 “Sebaik-baik amal bani adam bagi Allah di hari iedul adha adalah menyembelih qurban. Di hari kiamat hewan-hewan qurban tersebut menyertai bani adam dengan tanduk-tanduknya, tulang-tulang dan bulunya, darah hewan tersebut diterima oleh Allah sebelum menetes ke bumi dan akan membersihkan mereka yang melakukannya(H.R. Tirmizi, Ibnu Majah).

 

Dalam riwayat Anas bin Malik, Rasulullah menyembelih dua ekor domba putih bertanduk, beliau meletakkan kakinya di dekat leher hewan tersebut lalu membaca basmalah dan bertakbir dan menyembelihnya” (H.R. Tirmizi dll).

Hukum ibadah qurban, Mazhab Hanafi mengatakan wajib dengan dalil hadist Abu Haurairah yang menyebutkan Rasulullah s.a.w. bersabda “Barangsiapa mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan qurban, maka jangan lah ia mendekati masjidku” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah). Ini menunjukkan seuatu perintah yang sangat kuat sehingga lebih tepat untuk dikatakan wajib.

Mayoritas ulama mengatakan hukum qurban sunnah dan dilakukan setiap tahun bagi yang mampu. Mazhab syafi’i mengatakan qurban hukumnya sunnah ‘ain (menjadi tanggungan individu) bagi setiap individu sekali dalam seumur dan sunnah kifayah bagi sebuah keluarga besar, menjadi tanggungan seluruh anggota keluarga, namun kesunnahan tersebut terpenuhi bila salah satu anggota keluarga telah melaksanakannya. Dalil yang melandasi pendapat ini adalah riwayat Umi Salamah. Rasulullah s.a.w. bersabda :

 

Bila kalian melihat hilal dzul hijjah dan kalian menginginkan menjalankan ibadah qurban, maka janganlah memotong bulu dan kuku hewan yang hendak disembelih(H.R. Muslim),

 

hadist ini mengaitkan ibadah qurban dengan keinginan yang artinya bukan kewajiban. Dalam riwayat Ibnu ABbas Rasulullah s.a.w. mengatakan :

 

Tiga perkara bagiku wajib, namun bagi kalian sunnah, yaitu shalat witir, menyembelih qurban dan shalat iedul adha” (HR Ahmad dan Hakim)

Qurban disunnahkan kepada yang mampu. Ukuran kemampuan tidak berdasarkan kepada nisab, namun kepada kebutuhan per individu, yaitu apabila seseorang setelah memenuhi kebutuhan sehari-harinya masih memiliki dana lebih dan mencukupi untuk membeli hewan qurban, khususnya di hari raya iedul adha dan tiga hari tasyriq.

Dalam beribadah qurban harus disertai niat berqurban untuk Allah atas nama dirinya. Berqurban atas nama orang lain menurut mazhab Syafi’i mengatakan tidak sah tanpa seizin orang tersebut, demikian atas nama orang yang telah meninggal tidak sah bila tanpa dasar wasiat. Ulama Maliki mengatakan makruh berqurban atas nama orang lain. Ulama Hanafi dan Hanbali mengatakan sah saja berqurban untuk orang lain yang telah meninggal dan pahalanya dikirimkan kepada almarhum.

Dalam menyembelih qurban disunnahkan membaca bismillah, membaca sholawat untuk Rasulullah, menghadapkan hewan ke arah kiblat waktu menyembelih, membaca takbir sebelum basmalah dan sesudahnya serta berdoa “Ya Allah qurban ini dariMu dan untukMu”.

Wallahu A’lam

Indahnya Belajar Al Qur’an, Membaca dan Menghafalkannya

0

 خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَـلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ     [البخاري]

“ Sebaik-baik kalian adalah orang yang be-lajar Al Quran dan yang mengajarkannya “

 (Bukhori)

 الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ                       [متفق عليه]

“ Orang yang membaca Al Quran dan dia pandai membacanya maka (nanti di akhirat akan dikumpulkan) bersama para malaikat yang mulia, sedangkan orang yang membaca Al Quran dan dia terbata-bata karenanya serta kesusahan  maka baginya dua pahala “                              (Muttafaq alaih)

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ “آلـم” حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلاَمٌ حَرْفٌ، وَمِيْمٌ حَرْفٌ

[البخاري]

Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan akan dilipatkan gandakan sepuluh, saya tidak mengatakan (آلـم) satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf                                    (Bukhori)

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُحِبَّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ، فَلْيَقْرَأْ فِي الْمُصْحَفِ                               [صحيح البخاري]

“ Siapa senang dirinya mencintai Allah dan Rasul-Nya maka hendaklah dia membaca Mushhaf ini (Al Quran)  “             (Shahih Bukhori)

يُقَالُ لِصَاحِبِ القُرْآنِ: اِقْرَأْ، وَارْتَقِ، وَرَتِّلْ، كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا                                     [صحيح البخاري]

“ Dikatakan kepada orang yang suka membaca Al Quran : “Bacalah dan mendaki-lah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia, karena sesungguhnya kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau baca “

(Shahih Bukhori)

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ  ثَلاَثَ خَلِفَاتٍ، عِظَامٍ سِمَانٍ ؟ قُلْنَا : نَعَمْ : قَالَ : فَثَلاَثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ                 [مسلم]

Inginkah salah seorang diantara kalian yang kembali ke keluarganya membawa tiga ekor onta yang sedang hamil dan gemuk-gemuk?, kami berkata : Ya, maka beliau bersabda : tiga ayat yang kalian baca dalam shalat kalian itu lebih baik dari tiga ekor onta hamil yang gemuk.       

KEUTAMAAN BERDAKWAH DI JALAN ALLAH

0

 

 

قال الله تعالى : وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالحِاً وَقَالَ إِنَّنِيْ مِنَ المُسْلِمِيْنَ [فصلت : 33]

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri “                         (Fushshilat 33)

 

 وَاللهِ لأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ حُمُرُ النَّعَمِ                [مسلم]

“ Demi Allah, seandainya Allah memberi hidayah kepada seseorang atas perantara kamu maka (ganjarannya) lebih baik bagi kalian daripada kalian mendapatkan seekor onta merah[1])“                                     (Muslim)

 

 مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلَ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلىَ ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلَ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئاً                       [مسلم]

 

“ Siapa yang mengajak kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, dan siapa yang mengajak kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun “

(Muslim)


1. Onta merah adalah harta benda yang paling tinggi nilainya pada saat itu. (penterjemah)

Unromantic Tempurrejo

0
Pagi itu, jalanan Tempurrejo masih lengang. Dari pertigaan Tretes terlihat Gunung Lawu masih dengan anggunnya memamerkan kecantikannya. Sesekali terlihat ibu-ibu melintas dengan sepeda berkeranjang di boncengan, yang  penuh dengan dagangannya. Tujuannya satu, Pasar Bandung. Dari wajah mereka terlihat gurat-gurat semangat hidup, meski sebagian sudah mulai keriput. Namun, karena hampir setiap pagi mereka mengayuh sepeda Unto-nya, membelah halimun pagi, maka yang nampak hanyalah raut-raut kesegaran dan kebahagiaan. Memang disadari atau tidak, ini menjadi sarana olah raga untuk kebugaran mereka. Dan saat melintas di depan perguruan Muhammadiyah Tempurrejo, mereka seolah tersenyum, teringat anak-anak mereka yang tadi berangkat sekolah bersamaan dengan keberangkatan mereka ke pasar. Berharap, masa depan anak-anak mereka tak seperti orang tuanya.
Di komplek sekolah Muhammadiyah Tempurrejo juga masih sepi. Tetapi, sayup-sayup terdengar suara sapu lidi bergesekan dengan halaman yang penuh dengan sampah dedaunan. Pastilah itu Mbah Parni (Allah yarham, kami mendoakan agar Allah mengampuni, menyayangi dan mengangkat derajatmu Mbah –Amiin) yang sudah beraktifitas membersihkan halaman sekolah dibantu oleh para asistennya. Suara sapu itu syahdu mengalun seperti suara kontemplasi jiwa yang menentramkan. Memang beliau yang bertanggung jawab dengan kebersihan lingkungan sekolah. Jadi, setelah shalat subuh beliau sudah mulai bekerja, beradu cepat dengan burung Gereja yang masih enggan berkicau, beradu cepat dengan ibu-ibu pedagang pasar Bandung, beradu cepat dengan kedatangan para siswa. Dan tentunya, mengalahkan anak-anak pondok yang punya kebiasaan “mbangkong” selepas subuh. Hingga tak jarang mereka telat masuk sekolah karena bangun kesiangan.
Perlahan, seiring dengan selesainya Mbah Parni dengan rutinitasnya, sekolah mulai menampakkan geliatnya. Para siswa mulai berdatangan. Tidak hanya seragam abu-abu putih, biru putih dan putih-putihpun mulai berseliweran. Aliyah, Tsanawiyah dan Ibtidaiyah dalam satu zona membuat nuansa pendidikan sangatlah kental. Roman merekapun beragam. Ada yang piket sibuk membersihkan kelas, ada yang bercanda ria dengan teman sejawatnnya, ada pula yang serius membuka buku catatan temannya untuk meminjam jawaban PR. Ckckck. Siswa-siswi MI lebih aktif lagi. Sepagi itu, ada saja yang sudah ngos-ngosan dengan keringat bercucuran main kejar-kejaran. Anak yang kalem lebih memilih warung daripada kejar-kejaran. Walhasil, tangan kanan memegang setusuk cilok yang berlumuran saus, tangan kirinya menenteng sebungkus plastik minuman berwarna cerah.
Aku perhatikan satu per satu anak demi anak, teman-temanku belum muncul juga. Baron, Franky, Gendon dan Dennis tak satupun kelihatan. Dari ujung rumah Mbah Sur yang biasanya Gendon lewat situ, yang muncul justru para siswi dari Asrama Putri yang asyik membicarakan insiden BMX naik pohon Waru seminggu yang lalu. Dari arah Banyubiru Franky juga tidak muncul, yang ada malah ibu-ibu mengayuh sepeda Unto pulang dari pasar Bandung. Namun dari ujung jalan arah matahari terbit, si Dennis dengan langkah gagah seorang tentara, sudah terlihat. Aku sumringah menyambutnya.
Buru-buru aku menyapa sedikit berteriak, “Bro, buruan dong.”
Ia tak menjawab. Hanya lambaian tangan yang membalas. Baru setelah dekat Dennis bertanya, “Ada apa bro, kok kelihatannya gak enak banget mukamu?”
“Anak-anak belum pada nongol. Pada kemana ya?”
“Gatau. Emang napa?”
“Gapapa sih. Cuma aneh aja. Kan biasanya mereka rajin bro.”
“Alah biarin deuh, nanti juga dateng. Udah yuk ke kelas tuh dah bel.”
“Ayuk lah.”
Di kelas.
Baron, Gendon dan Franky belum hadir juga. Bangku mereka kosong. Masih beruntung, meski bel masuk sudah lima belas menit berlalu, guru juga belum ada. Aku dan Dennis mulai cemas. Berharap tidak terjadi apa-apa terkait dengan insiden BMX yang lalu. Sebab kemarin, Baron menerima sepucuk surat kaleng yang berisi ancaman dan tantangan. Sementara di luar, terdengar suara sepatu pantopel melangkah kian mendekat. Aku yakin itu pasti langkah guru. Wah celaka, kalau sampai guru sudah masuk kelas dan mereka telat masuk, pasti keanehan ini akan terdeteksi oleh guru.
Dan benar saja, pak guru biologi dengan seragam safari masuk ke kelas sambil mengucap salam.
“Assalamu’alaikum…”
Serempak semuanya menjawab, “Wa’alaikumussalaaaaaaaaaaam warahmatullaaaahi wabarokaaaaaaatuh…”
Setelah membuka kelas dengan do’a dan pengantar seperlunya, pak guru mulai memperhatikan tiga bangku yang kosong. Tatapannya penuh curiga. Aku dan Dennispun mulai cemas. Hmmm… semoga saja prediksi buruk itu tidak terjadi.

Sederhana Itu Indah

1

Terus bergerak, berfikir dan bekerja. Kerahkan potensi, kobarkan semangat juangmu. Allah Maha Tahu seberapa jauh engkau melangkah dan seberapa banyak peluh dan air mata yang kau teteskan.