Pertemuan yang Mendebarkan (Part 7)

0
Perguruan Muhammadiyah Tempurrejo, sebuah komplek yang sudah cukup umur. Jenjang pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi ada di sini. Selain pendidikan formal ada juga pendidikan non formal. Di komplek bangunan sekolah inilah aku selama tiga tahun meniti jenjang pendidikan madrasah aliyah.
Komplek ini dipisahkan oleh jalan raya Tempurrejo-Banyubiru. Deretan gedung pertama, di samping utara jalan, gedung tua bercat putih dan berjendela warna biru langit yang menjadi ciri khas bangunan komplek sekolah. Bangunan ini menjadi tempat belajar siswa-siswi madrasah tsanawiyah di pagi hari, sorenya digunakan oleh para santri madrasah diniyah. Di sebelahnya ada gedung madrasah ibtidaiyah, kondisinya masih bagus karena belum lama direnovasi. Tepat di ujung bangunan madrasah aliyah itu berdiri sebuah masjid, di depannya ada pemondokan untuk laki-laki. Pondok ini di bawah asuhan kyai Masykur.
Seberang jalan, gedung madrasah aliyah membujur dari utara ke selatan. Kondisinya juga tak jauh beda dengan gedung MTs. Model klasik, cat dinding putih dan jendela berwarna biru langit. Di depannya ada aula besar tempat untuk pertemuan-pertemuan penting. Kondisinya jauh lebih baik. Belum lama dibangun, temboknyapun belum diplester, jadi masih kelihatan batu-batanya meringis bak unggas kecil yang belum berbulu. Sebelah barat aula, gedung Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Tempurrejo (STIT) yang jarang ditemukan mahasiswa kuliah disana karena perkuliahan dipindahkan ke Mantingan. Kini, gedung STIT itu dimanfaatkan untuk ruang kelas madrasah tsanawiyah.
Beberapa kantin kecil ada di komplek ini. Selain itu, ada juga beberapa penjual makanan keliling yang mangkal. Kalau tukang bakso punya ciri khas memukul mangkok dengan sendok, penjual es kucir pikul punya lonceng bandul sapi, bakul cilok punya ciri khas suara terompet kecil yang ujungnya ada bola karet yang dipencet-pencet. Ada juga bakul kembang gula, penjual mainan, semua berhimpun berikhtiar untuk menghabiskan dagangannya mencari rezeki. Aktifitas transaksi baru terlihat padat saat jam istirahat. Sejumlah uang saku murid-murid akan berpindah tangan berganti dengan makanan dan minuman kecil pemuas lapar dan haus mereka.
Selain sebagai tempat untuk jajan, kantin juga dimanfaatkan untuk anak-anak yang malas mengikuti pelajaran sebagai tempat nongkrong. Meski berulang kali pemilik kantin mengingatkan betapa pentingnya belajar untuk masa depan, tapi masih ada saja yang nekat tetap duduk-duduk di kantin pada jam pelajaran, tanpa sedikitpun sungkan dengan nasehat pemilik kantin. Pemilik kantin akhirnya hanya diam membiarkan, toh karena merekalah yang membuat dagangan kantinnya laris manis.
Siang itu selepas rapat panitia perkemahan, aku sudah niatkan untuk mengisi perut di kantin Pak Nur Petok. Tidak langsung masuk kelas meski jam pelajaran sedang berlangsung. Pasti guru sudah memaklumi karena sedang mengikuti rapat. Sejak pagi perutku memang belum terisi apa-apa selain sepotong jadah ketan yang semalam aku bawa dari undangan tahlilan tetangga pondok. Tadi sebenarnya sarapan sudah disediakan oleh teman-teman pondokku yang giliran piket masak. Tapi naas nasibku tidak kebagian lauk tempe goreng secuilpun. Yang tersisa hanya sepiring nasi kerak intip yang sudah gosong. Begitulah yang biasa terjadi di pondok. Jika telat sedikit saja untuk makan bersama, maka alamat tidak dapat jatah bagian makan.
Aku keluar dari ruang sekretariat setelah kubereskan semua berkas-berkas kegiatan tahun lalu. Sudah menari-nari di pelupuk mataku segelas es sirup berwarna hijau yang segar, yang sisi luar gelasnya sampai berembun karena saking dinginnya. Beberapa potong bakwan dan tahu isi pasti menambah gairah untuk tidak berhenti melahapnya. Hmmm… aku bergegas menuju kantin. Perut sudah semakin merdu mendendangkan lagu keroncong.
Kantin sepi. Hanya ada seorang siswa putih abu-abu. Aku kenal dia meski duduknya membelakangi pintu masuk kantin. Itu Bismo. Wajar saja kantin sepi, ini jam pelajaran, semua siswa sedang di kelas. Hanya pengurus IRM dan panitia perkemahan saja yang dapat izin untuk rapat tadi. Usai rapat beberapa anak langsung kembali ke kelas. Namun ada juga yang ke kantin dulu termasuk aku. Bismo tidak menyadari kedatanganku, sementara Pak Nur sibuk menata dagangannya. Aku langsung pesan es sirup dan nasi sederhana. Biasanya lauknya terik tempe campur ikan teri dan mie bihun serta sambal. Di beberapa kota nasi ini sering disebut sego kucing.
Pak Nur dengan gesit menyiapkan apa yang kupesan. Tidak sampai dua menit, es sirup dan sebungkus daun pisang nasi sederhana di atas piring terhidang dihadapanku.
“Makan Mo.” Basa-basiku pada Bismo.
“Eh kamu… iya monggo-monggo.” Jawab Bismo kaget sambil menoleh ke arahku. Kali ini dia bertutur santun. Tidak seperti tadi saat di ruang IRM.
Aku tidak peduli lagi. Air liurku meleleh. Langsung kuserbu sarapanku yang kesiangan tanpa ampun. Benar-benar nikmat kalau lagi lapar. Aku lupa apakah tadi sempat membaca doa sebelum makan atau tidak. Padahal doa itu sudah kuhafal sejak masih di TK. Entahlah. Kusambar lagi sepotong tahu isi dan bakwan. Dalam waktu sekejap piring sudah bersih. Kini beralih ke segelas es sirup yang kusedot. Keringat membasahi wajah dan leherku. Ku seka saja dengan lengan bajuku.
Perut terganjal sudah. Kusandarkan tubuhku ke dinding kantin. Nafasku terasa agak berat sehabis makan. Aku akan ke kelas lima menit lagi. Begitu pikirku. Aku lihat Bismo masih duduk santai. Masih membelakangiku. Sesekali dia terbatuk. Seperti orang tersedak. Lama kelamaan batuknya makin sering. Aku perhatikan Bismo menutupkan telapak tangannya ke mulut, lalu terbatuk. Seketika asap menyembul berhamburan diterpa udara. Aku coba melihat lebih seksama. Benar saja, ini bau asap rokok. Ya ampun, sejak kapan Bismo doyan merokok. Sejak kenal Bismo dari kelas satu aku belum pernah melihat dia menghisap rokok. Baru kali ini aku melihatnya. Waktu bersama-sama ikut Yasinan di rumah Bu Diah saja, aku jelas-jelas melihat dia menolak mentah-mentah tawaran rokok yang diberikan padanya.
Bismo terus terbatuk-batuk. Sepertinya dia sangat tersiksa. Dia coba menghisap lagi rokoknya. Dan, batuknya semakin parah. Dia lari keluar kantin. Sampai di luar langsung muntah-muntah. Aku bergegas mendekati Bismo. Kupijit leher dan tengkuknya.
“Kamu nggak apa-apa Mo?” tanyaku panik.
“Nggak apa-apa, udah biarin saja.” ujar Bismo sambil menggeleng. Jemari tangannya kanannya masih menjepit batang kretek yang masih mengepul.
Aku masuk lagi ke kantin. Mengambil air putih dari galon yang tersedia gratis.
“Minum dulu Mo.” Kusodorkan segelas air putih untuk Bismo. Tanpa berkata lagi Bismo meraih dan langsung meminumnya.
“Kamu sakit Mo? Atau kaget karena baru pertama kali merokok?” kulihat Bismo matanya memerah. Di sudutnya ada titik air mata yang hampir menetes.
Bismo hanya menggeleng. Dia berdiri hendak masuk ke kantin. Puntung rokok ditangannya dia banting ke tanah lalu di injaknya. Aku mengikuti masuk ke kantin. Bismo kembali duduk di tempat semula. Diambilnya tissue untuk mengelap mulut dan sudut-sudut matanya yang basah.
“Mad.”
“Iya Mo kenapa?” kali ini aku duduk semeja dengan Bismo.
“Tadi udah kamu kasih ke Dita?” Bismo terlihat lebih tenang.
“Udah tenang aja. Apaan Mo tadi itu? Surat cinta ya?” tanyaku menyelidik.
“Ah mau tau aja urusan orang.” Jawanya ketus.
“Alaahhh… pakai nggak ngaku lagi. Aku tahu, aku tahu… rupanya kamu kesengsem sama Dita ya… Tapi, ya udahlah nggak ada untungnya juga buat aku. Tapi anehnya kenapa kamu nggak berani memberikan secara langsung ya? Eh kata orang-orang, cewek itu sukanya cowok yang gentle. Nggak cemen kayak kamu itu Mo. Kalau suka bilang aja langsung sama yang bersangkutan.”
“Nggak usah sok menggurui kayak gitu deh. Kayak udah pengalaman aja kamu ini.”
“Hehehe…”
“Eh, emang Baron itu udah jadian ya sama Dita? Hampir tiap hari aku lihat mereka itu selalu saja bersama-sama?”
“Kok aku nggak pernah lihat ya? Aku nggak tau Mo, itu kan urusan pribadi orang lain. Ngapain aku ikut campur.”
“Masa nggak tahu. Kamu kan teman sepondok sama Baron?”
“Waduh-waduh interogasi nih ceritanya. Baron nggak pernah cerita Mo kalau masalah itu. Dia kan orangnya gampang bergaul sama siapa saja Mo. Lha wong sama Mbah Sainah yang janda kidul pondok saja dia akrab lho Mo. Hehehe…”
“Uhuk…uhuk…” Bismo masih terbatuk. “Eh, Mad, kamu jangan bilang-bilang aku ngerokok ya. Awas lho.” Bismo mengepalkan tangan kanannya di arahkan ke mukaku.
“Ceilah… takut amat. Kalau ngerokok ya ngerokok aja nggak usah takut. Lagian ketahuan banget baru sekali nyicipi rokok. Orang yang biasa ngerokok itu nggak batuk-batuk kayak gitu Mo, apalagi sampai muntah-muntah sambil nangis.  Satu lagi Mo, cewek itu nggak suka cowok perokok.”
“Udah diam! Nggak usah ceramah kayak gitu. Kalau mau ceramah nanti malam aja acara jami’atul khithobiyah.”
“Wah pas banget Mo, nanti malam jadwalku yang tampil. Nanti datang ya. Aku mau bawain materi tentang rokok dan bahayanya. Hehehe…
“Alaaah bisa-bisanya kamu ini.”
“Eh Mo, kenapa sih dulu kamu naikin BMX-nya Baron ke pohon waru? Cemburu sama Baron ya? Hehehe… Bismo, Bismo, kalau suka sama Dita emang harus siap patah hati Mo, dia banyak yang naksir. Nanti jangan-jangan sepeda motor yang kamu naikkan ke atas genteng… Hehehe… berat Mo. ”
Tangan Bismo menyambar koran bekas di meja kantin. Digulungnya cepat-cepat. Bletak… dipukulnya kepalaku tepat sasaran.
“Rasain tuh… disuruh diam malah ngoceh.”
Aku tidak merasa sakit. Yang ada justru aku sulit menahan tawa. Aku merasa bisa mengunci mati obrolan kali ini. Aku beranjak berdiri. “Masuk kelas yuk Mo. Di sini sepi. Di kelas kan ada Dita. Bisa curi-curi pandang Mo. Hehehe…”
Pak Nur masih sibuk dengan dagangannya. Aku dekati beliau. Tanganku meraba-raba ke saku celana mencari lembaran rupiah untuk membayar apa yang sudah kumakan.  Saku kiri kosong, saku kananpun kosong. Waduh. Saku celana belakang juga tak sepeserpun ku temukan. Di saku baju juga tidak ada uang. Masya Allah, aku tidak bawa uang sekepingpun. Aku panik bercampur malu. Bagaimana harus ku katakan pada Pak Nur. Selama ini belum pernah aku ngutang. Bagaimana ini? Dalam kebingunganku aku pura-pura bertanya pada Pak Nur.
“Pak sampun, tambah tahu sama bakwan, pinten sedoyo?”
“Nasi seribu. Es tiga ratus. Gorengan tiga ratus. Semua jadi seribu enam ratus.” Jawab Pak Nur tanpa memperhatikanku.
Glek… aku menelan ludah. Sebenarnya tanpa bertanyapun aku sudah tahu berapa yang harus kubayar. Bismo yang memperhatikanku, sepertinya faham kondisiku.
“Kenapa kamu ini? Nggak punya duit?”
“Hehe… iya Mo. Duitku ketinggalan Mo. Pinjem dulu dong Mo buat bayar. Nanti aku ganti.”
“Huuuu… dasar miskin. Udah nggak usah minjem, aku yang bayar, semua berapa?” Bismo merogoh sakunya. Dompetnya terlihat tebal. Dikeluarkannya selembar puluhan ribu dan disodorkan pada Pak Nur.
“Pak ini sekalian berdua.”
 “Waduh Mo jadi nggak enak aku.”
“Udah nggak usah dipikirin. Ini mumpung aku lagi baik hati. Kalau nggak, bodoh amat urusan orang.”
Dalam hatiku bersyukur meski aku menunjukkan sikap sungkan. Dalam hati juga berfikir, ternyata Bismo anaknya baik. Tidak seperti anggapanku selama ini. “Wah, matur suwun lho Mo. Kamu ini Mo, udah ganteng baik hati lagi. Sering-sering aja traktir teman kayak gini Mo.”
Plak… sekali lagi Bismo memukulku dengan gulungan koran. Kali ini agak pelan di punggungku.
“Udah yuk masuk kelas.” Ajak Bismo.
“Ayuk Mo.”
Bismo merapikan uang kembalian dan memasukkannya ke dompetnya. Aku dan Bismo berbalik hendak keluar kantin tiba-tiba…
“Bismo! Aku mau ngomong!”
Bismo terhenyak. Kakinya kaku memaku bumi seperti lumpuh. Dia tergugup. Suara itu membuat Bismo seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Tubuh Bismo gemetar panas dingin. Detak jantungnya meningkat hingga nafasnya tak beraturan. Sosok yang kini di hadapannya begitu mengejutkannya. Akupun hanya terdiam menyaksikan kekakuan ini. Sayup-sayup suara terompet bakul cilok terdengar melankolis, seakan mengiringi suasana syahdu di siang terik itu.

 

Iklan

Ingat Mati

0

Saudaraku yang mengharap ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala
Sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah sebuah perjalanan panjang menuju negeri keabadian. Semoga kita digolongkan ke dalam orang-orang yang sadar dan mengerti harus bagaimana menjalani hidup ini agar terhindar dari kehidupan yang sia-sia dan tanpa makna.

Perjalanan ke sebuah negeri yang tiada akhirnya. Ingatlah wahai saudaraku perbekalan yang terbaik adalah ketakwaan kita (watazawwadu fainna khoirozzaadittaqwa) QS. 2:198. Yakni dengan amal shaleh yang ikhlas dan mutaaba’ah (sesuai sunnah Rasulullah r) yang menyertaimu ketika meninggalkan dunia ini untuk menghadap Allah I dalam kematian yang pasti.
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati….” (QS. Al-Imran :185)
Memang wahai saudaraku. Perjalanan ini adalah menuju akhirat. Suatu perjalanan yang kita mohon kepada
Allah I agar berakhir pada kenikmatan surga. Bukan neraka. Karena keagungan perjalanan menuju hari akhir inilah Rasulullah r bersabda:
“Seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui,
niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Mutaffaqun ‘alaih)
maksudnya, jika kita mengetahui hakekat ajal yang akan menjemput kita dan kedahsyatan alam kubur, kegelapan hari kiamat dan segala kesedihannya, shirot (titian) dan segala rintangannya, surga dengan segala kenikmatannya, niscaya akan memberikan motivasi kepada kita untuk mengadakan perubahan. Berubah dari kefasikan dan kekafiran menjadi keimanan, dari kemunafikan menjadi istiqamah, dari keraguan menjadi keyakinan, dari kesombongan menjadi ketawadhu’an, dari rakus menjadi rasa syukur dan sederhana, dari pemarah dan pendendam menjadi kasih sayang dan memaafkan, dari kelicikan dan kesewenangan menjadi kejujuran dan keadilan, dari kedustaan menjadi kebenaran. Jadi, perubahan diri dari sifat dan watak syaithoni dan hewani, menjadi insan Islami harus segera di mulai.
Akan tetapi kita sering lupa atau berpura-pura lupa dengan perjalanan panjang tersebut, bahkan malah memilih dunia dengan segala perangkatnya, kemewahan, kecantikan, kekayaan, kedudukan yang semua nilainya disisi Allah I , tidak lebih dari sehelai sayap nyamuk!
Wahai yang tertipu oleh dunia…..! Wahai yang sedang berpaling dari Allah I …! Wahai yang sedang lengah dari ketaatan kepada Rabb-nya…! Wahai yang nafsunya selalu menolak nasehat!! Wahai yang selalu berangan-angan panjang!!! Tidakkah engkau mengetahui bahwa kamu akan segera meninggalkan duniamu dan duniamu pula akan meninggalkanmu? Mana rumahmu yang megah? Mana pakaianmu yang indah? Mana aroma wewangianmu? Mana para pembantu dan familimu? Mana wajahmu yang cantik dan tampan? Mana kulitmu yang halus? Mana….?! Mana….?! Saat itu ulat dan cacing mengoyak-ngoyak dan mencerai-beraikan seluruh tubuhmu ….?!
Bersegeralah bersimpuh di hadapan Rabbul Jalil, Allah I. Lepaskan selimut kesombongan yang menghalangi dari rahmat dan maghfirah-Nya. Kuberikan khabar gembira bagi yang berdosa, lalai dan berlebih-lebihan, agar segera berhenti dari perbuatan kemaksiatannya itu.
Saudaraku yang tercinta, siapakah diantara kita yang tak berdosa, siapa diantara kita yang tidak bersalah kepada Tuhannya? Sama sekali tidak ada, seharipun kita tidak bisa seperti malaikat yang selalu taat dan tidak berbuat maksiat sedikitpun.
Datangilah masjid dan beribadahlah di dalamnya, tegakkanlah shalat lima waktu, puasalah di bulan Ramadhan, tunaikan haji jika engkau telah mampu, zakatilah harta dan jiwamu, bimbinglah anak-anakmu dengan Al-Islam, jauhkan dirimu dan keluargamu dari bacaan/majalah/tabloid porno.
Insyafilah semua dosa-dosa, serta ingatlah …. Pintu taubat masih terbuka lebar untukmu, rahmat dan maghfirah Allah I sangatlah luas, lebih luas dari lautan dosa. Ketahuilah bahwa Allah I sangat senang dengan taubatmu. Ingatlah firman Allah I :
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan hatinya.”
Rasulullah r menyampaikan satu nasehat yang mana satu nasehat ini cukup untuk menasehati setiap manusia:
كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا
“Cukuplah dengan adanya kematian sebagai penasehat (bagi kita).”
Saudaraku…., renungkanlah baik-baik risalah ini dengan pena kerinduan dan tinta air mata. Kembalilah kepada Allah I dan Rasul-Nya r dengan manhaj (cara) yang benar. Kerjakanlah apa yang telah diperintahkan-Nya dan sekuat-kuatnya untuk menjauhi larangan-Nya. Berusahalah untuk memelihara ketundukan, tawadhu’ dan syukur atas nikmat-Nya yang akan mengajakmu menuju pintu ketenangan dan kebahagiaan. Berhiaslah dengan amal shaleh dan keindahan akhlaqul karimah. Semuanya akan mempertanggungjawabkan amalannya sendiri-sendiri, maka beramal-lah!
Allah I berfirman:
“Maka barangsiapa beramal seberat biji sawi dari kebaikan, niscaya akan melihat ganjarannya. Dan barangsiapa beramal seberat biji sawi dari kemaksiatan, niscaya akan melihat siksanya.” (Az-Zalzalah: 7-8) Wallahu a’lam

Tempurrejo Love Story Part 6

0
FIRASAT CINTAKAH?
Di sebuah ruangan sempit berukuran 2 x 6 meter itulah sekretariat IRM. Letaknya persis di tengah-tengah antara ruang perpustakaan dan ruang kelas. Ruangan itu memiliki dua buah pintu, satu di depan dan satu di belakang. Dua pintu itu terlihat sangat sederhana dan tampak natural tanpa adanya setetespun cat yang mempercantiknya. Tak ada jendela untuk ventilasi hingga udara terasa sangat pengap. Membentang hampir memenuhi ruangan, sebuah meja besar. Di kiri kanan meja itu ada dingklik panjang. Sedangkan di pojok belakang ada sebuah lemari usang dengan gembok besar yang mengunci rapat-rapat pintunya. Di dalamnya tersimpan arsip-arsip penting seputar kegiatan IRM. Ada juga sebuah radio tape portabel bermerk Tens dan sebuah mesin ketik yang sudah waktunya untuk dimuseumkan. Beberapa tutsnya sudah tak berhuruf. Meskipun kondisinya sudah sangat udzur, namun  peralatan itu masih sangat dibutuhkan setiap kali akan mengadakan agenda-agenda krusial. Jika sedang dipakai, mesin tulis yang konon ditemukan oleh Christopher Latham Sholes itu suaranya sangat nyaring, mengungguli suara mesin ketik di kantor-kantor kelurahan.
Tempat sempit itulah yang menjadi kebanggaan para anggota IRM. Hampir semua event-event besar terlahir dari ruang mungil itu. Ide-ide segar bermunculan dari markaz itu. Termasuk hari itu, sedang digelar rapat untuk sebuah agenda rutin tahunan : perkemahan kepanduan hizbul wathan.
Beberapa posisi penting kepanitian memang harus dipegang oleh pengurus inti. Tetapi untuk seksi-seksi yang lain biasanya dibentuk berdasarkan rapat semua anggota IRM. Siang itu ruangan itu begitu penuh. Hampir semua anggota IRM dan panitia perkemahan hadir memenuhi ruangan itu. Semuanya adalah siswa-siswi kelas dua.
Seharusnya rapat dipimpin langsung oleh Dani, sang ketua IRM. Namun, karena Dani sedang ada kegiatan Saka Bhayangkara di Polsek Walikukun, maka yang memimpin rapat adalah Rina, sekretarisnya. Agenda rapat panitia itu adalah melaporkan persiapan awal seksi-seksi. Beberapa seksi memang sudah mulai bekerja. Seksi acara, seksi humas, perlengkapan, P3K, seksi dokumentasi semuanya hadir khidmad dengan persiapan masing-masing.
“Gendon, bagaimana hasil survey kemarin?” Tanya Rina mengawali pembicaraan. Gendon yang menjadi seksi acara sibuk membuka-buka catatannya.
“Kemarin sih sudah ok. Kita kesana sekalian dengan seksi humas mengantarkan surat izin pada Pak Lurah Jamus. Lapangannya cukup representatif walaupun ada beberapa titik yang tidak rata tanahnya. Tapi itu bukan masalah. Nanti biar peserta yang mengupayakan sendiri kenyamanan tendanya. Akses ke masjid juga dekat, paling sekitar seratus meter dari lapangan. Rute penjelajahan juga sudah kita lihat. Sesuai dengan rencana awal, dari lapangan arahnya turun ke bawah ke arah Desa Ngrendeng. Nanti pos satu dan pos dua masih di zona kebun teh. Ini track yang lumayan berat. Karena peserta akan kita lewatkan di jalur tebing yang cukup curam.”
“Apa itu tidak beresiko tinggi?”
“Iya, resiko itu pasti, tapi saya berani menjamin keamanannya asalkan semua peserta mengikuti instruksi yang kita berikan.”
“Ok sip. Lanjutkan.”
“Baik, untuk pos satu kita akan isi dengan materi kepanduan dan baris berbaris. Nanti pak Agus yang akan jadi pembina di pos satu. Pos dua materi kepemimpinan, pembinanya pak Sugeng. Di pos tiga lokasinya sudah masuk di pemukiman warga. Tepatnya di halaman masjid Al Ikhlas. Materinya tentang keislaman, dilanjutkan dengan istirahat makan siang dan shalat dhuhur masing-masing kelompok. Irfan juga sudah menyampaikan surat izin ke takmir masjid. Iya kan Fan?” Gendon mengakhiri penjelasannya sembari menatap ke arah Irfan.
“Nggggg…. eh… iya… iya… surat-menyurat semuanya sudah tersampaikan dengan tiada halangan suatu apa.” Irfan terlihat agak gugup. Dari awal rapat dimulai dia asyik mengobrol dengan Risma tanpa mempedulikan situasi.
“Terus Pak Lurah apa bisa hadir menyampaikan sambutan saat pembukaan nanti?”
“Insya Allah bisa Rin. Kemarin aku bertemu langsung dengan beliau. Kalaupun tidak bisa hadir, pasti ada yang menggantikan.” Kata Irfan sambil membenahi letak kacamatanya. Irfan memang pas jadi seksi humas. Dia pandai berdiplomasi dan tutur katanya halus saat berhadapan dengan siapapun. Termasuk para pamong desa.
“Bagus. Silahkan lanjutkan dulu seksi acara.”
“Nah setelah selesai istirahat dan shalat dhuhur. Perjalanan dilanjutkan lagi, arahnya kembali pulang ke lokasi kemah. Ada dua halang rintang di jalur ini. Yaitu melewati sawah dengan track berlumpur dan menyebrang sungai. Setelah itu baru masuk pos terakhir yang akan diisi dengan materi kreasi seni. Di pos ini semua kelompok bisa membuat berbagai macam bentuk karya seni dengan bahan-bahan yang sudah kita siapkan. Di sini berbeda dengan pos satu dan dua yang boleh menggertak atau memplonco peserta. Pos terakhir ini sifatnya fun. Ya semacam edu-games gitu, karena mempertimbangkan kondisi peserta sudah kelelahan. Dari pos terakhir ini nanti pulangnya akan melewati hutan pinus. Sambil pulang, semua regu wajib mengumpulkan kayu bakar dari ranting-ranting pinus yang sudah kering. Ini untuk bahan bakar api unggun di malam puncak penutupan. Saya perkirakan sampai di tenda kembali sekitar jam empat sore. Itu saja Rin persiapan kita. Tapi segala sesuatunya sudah siap.”
“Untuk penanggung jawab di pos apa sudah ditunjuk?” tanya Rina.
“Oh iya… sudah Rin. Di pos satu saya sendiri sama Sarah. Di pos dua Mas Dani dengan Adel. Pos tiga dijaga oleh Franky sama kamu Rin. Lalu pos terakhir sapu jagad, semua penanggung jawab pos sebelumnya saya harap bisa berkumpul, tapi nanti ada Dennis yang jadi PJ-nya. Terus penyambutan kepulangan di tenda sekretariat oleh Bismo sambil meminta tugas-tugas yang sudah diberikan di setiap pos. Saya rasa begitu. Silahkan kalau ada tambahan dan masukan dari teman-teman.” Gendon menutup buku catatannya, kepalanya mengangguk-angguk sendiri seperti seorang pelayan resto yang sedang menawarkan sesuatu.
“Baik, baik. Nanti usulan-usulan kita tampung di akhir. Sekarang bagaimana persiapan seksi perlengkapan?”
Baron sebagai koordinator seksi perlengkapan sebelum mulai berbicara mengitarkan pandangannya ke seluruh peserta rapat. Dia melihat ke arah Nanda dan Dita yang duduknya mengapit Rina. Mereka duduk persis di depannya. Baron juga melihat ada Bismo yang duduk di sampingku. Ada sedikit perasaan grogi yang memberatkannya untuk memulai bicara. Tapi dengan cepat dia menguasai keadaan dan memulai bicara.
“Okey… sejauh ini persiapan kita belum optimal. Aku belum dapat sewaan lampu penerangan dan mesin diesel untuk malam hari. Termasuk juga sound sistem. Tapi alternatifnya kita bisa pakai sound IRM ini.” Baron menghentikan bicara sambil menunjuk radio tape di sebelah lemari.
“Kalau tenda buat panitia bagaimana?” Tanya Rina
“Sudah ada dua tenda besar. Satu punya sekolah kita, satu lagi saya pinjam dari MI Kedunggudel.”
“Waktunya tinggal sepuluh hari lagi lho ya, jadi tolong diupayakan sesegera mungkin.”
“Iya Rin, nanti siang saya bergerak lagi mencari lampu penerangan”
“Baik yang lainnya?”
Semua seksi akhirnya menjelaskan panjang lebar terkait dengan rencana kegiatan itu. Nanda dan Risma kebagian menjadi seksi konsumsi. Dengan gamblang Risma memaparkan kebutuhan-kebutuhan belanja dapur hingga menu makan untuk panitia dan para guru.
“Wah, belum apa-apa aku sudah membayangkan betapa nikmatnya menu itu. Kita ini kemah lho bukan untuk tamasya.” Seru Rina.
“Tenang aja Rin. Itu menu sederhana, tidak akan boros kok. Kan kita punya koki handal. Di asrama dia paling jago masak-memasak.” Kata Risma sambil memberi isyarat ke arah Nanda dengan menaik turunkan alisnya.
Nanda diam saja tak bereaksi. Dia lebih banyak menunduk. Di hadapannya ada Baron, dia malu. Begitulah sikapnya setiap kali berhadapan dengan Baron, orang yang diam-diam sangat dikaguminya. Sejatinya ada perasaan bahagia yang membuncah dalam hatinya saat dirinya dekat dengan Baron. Namun sekuat tenaga rasa itu dia simpan dalam hatinya. Dia khawatir perasaannya akan melahirkan sikap salah tingkah hingga membuat suasana rapat jadi tidak nyaman. Maka ia hanya tertunduk. Ada sebersit harapan Nanda, hati Baron bisa menangkap getar-getar halus dalam hatinya. Meski sebenarnya dia sadar harapan itu sepertinya tinggal harapan. Karena dia tahu, orang yang sangat diharapkannya itu tidak membalas kekagumannya. Justru Baron lebih perhatian kepada sahabatnya sendiri, Dita. Tapi, apakah Baron benar-benar suka dengan Dita? Dita sendiri selalu mengelak kalau ditanya tentang perasaannya terhadap Baron. Apa benar cerita Gendon dan Dennis mengenai Baron yang mengharapkan Dita? Ah, jangan-jangan ini hanya ulah Gendon dan Dennis untuk memanas-manasi hatinya? Atau jangan-jangan ini akal-akalan Baron untuk menguji perasaannya? Atau jangan-jangan hatinya tak mampu menangkap sinyal cinta dari Baron karena sudah tertutup oleh perasaannya yang terbakar cemburu. Kenapa tidak ditanyakan langsung saja ya pada Baron? Tapi bagaimana bisa bertanya langsung kalau bertemu saja sudah pasti tertunduk malu. Lha kan bisa minta tolong sama Dita untuk bertanya. Aduh, kenapa mesti Dita lagi sih? Lamunan Nanda berputar-putar tidak karuan hingga suara Rina membuyarkannya.
“Okey… sekarang seksi P3K gimana?”
Kini giliran Ratih yang mengurusi masalah kesehatan bersama Dita yang menguasai forum. Anggota saka bakti husada itu memang selalu ditunjuk untuk masalah P3K. Sementara Bismo jadi penanggung jawab masalah keamanan. Aku dan Fikri dapat tugas untuk mengurus akomodasi dan dokumentasi. Aku sudah menyewa tiga buah truck untuk mengangkut peserta dan panitia pada hari keberangkatan. Sekaligus untuk penjemputan nantinya. Kamera manual 10 megapiksel juga sudah kupinjam dari Pakdheku untuk dokumentasi. Anggaran awal yang diberikan sudah habis aku pakai untuk uang muka sewa truck dan membeli dua roll film negatif. Rina mengangguk-angguk mendengar penjelasanku. Tanda setuju.
“Okey saya rasa sudah cukup rapat hari ini. Insya Allah nanti tiga hari lagi kita berkumpul lagi di sini untuk koordinasi perkembangan selanjutnya.” Rina melirik jam tangannya.
“Satu lagi Rin.” Potong Gendon.
“Ya silahkan.”
“Untuk acara api unggun konsepnya masih mentah. Kita punya dua malam untuk acara api unggun. Malam pertama, malam Sabtu beberapa opsi acara masih kita godog. Sedang malam Minggunya rencananya akan kita isi seperti acara perkemahan tahun-tahun sebelumnya yakni pementasan kreasi seni setiap regu. Saya minta masukan dari teman-teman untuk mengisi acara.”
“Baik, saya rasa seksi acara bisa berdiskusi dulu dengan timnya. Nanti kita bahas di rapat berikutnya.” Kata Rina yang sudah berkali-kali melihat jam di tangannya. Sepertinya dia terburu-buru ingin menyudahi rapat.
“Begitu ya. Ingat, kita ini tim. Jadi, saya berharap kita bisa berkerja sama dengan sebaik-baiknya sejak kepanitiaan terbentuk hingga nanti dibubarkan. Bila ada kesulitan-kesulitan segera sampaikan ke saya atau langsung ke Mas Dani. Atau kalau sudah buntu kita konsultasikan ke Pak Sugeng selaku pembina HW. Saya kira begitu, mari kita akhiri rapat kita kali ini dengan membaca hamdalah bersama. Alhamdulillahirabbil ‘alamiin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Rina menutup rapat dan beranjak berdiri meninggalkan ruangan diikuti beberapa yang lain. Sementara sebagian yang lain masih tetap di ruangan berkoordinasi dengan timnya. Kini ruangan itu terasa sedikit lebih longgar. Bismo yang sedari tadi duduk di sampingku berdiri mau keluar, tapi tiba-tiba dia mencolekku sambil menyodorkan selembar amplop. Tangannya menarik lenganku dengan kasar dan mendekatkan wajahnya ke telingaku.
“Heh… kasih ini ke Dita sekarang.” Kata Bismo berbisik. Sepertinya dia khawatir terdengar oleh yang lain.Tatapan matanya tampak tidak bersahabat.
“Apaan ini Mo?” Tanyaku santai.
“Sstttt… udah nggak usah tanya, kasih aja pokoknya.” Kata Bismo sambil melepaskan lenganku dan melangkah ke luar.
“Huuuu… dasar pengecut, cuma ngasih gini aja nggak berani.” Kataku meneriaki Bismo. Semua yang ada di ruangan menatap kepadaku.
“Ada apa Mad?” tanya Ratih penasaran.
“Nggak ada apa-apa. Bismo tuh aneh. Minta tolong tapi nggak ada sopan santunnya. Dita, nih dikasih Bismo barusan.” Aku beranjak menyodorkan amplop itu.
“Apaan itu?” tanya Dita menyambut uluran tanganku.
“Yeee… mana aku tahu. Lihat aja sendiri.” Jawabku sembari mengangkat bahu.
“Cie cieee cieeee… ada susuatu nih…” Ratih menggodai Dita.
“Ih… apaan sih kamu Rat.”
“Ehmm ehmmm…” Ratih berdehem masih dengan maksud menggodai. “Penasaran, coba lihat.” Kini Ratih malah mencoba merebut amplop itu dari Dita. Dengan sigap Dita segera menyembunyikan kertas itu di saku bajunya.
“Ah kamu Dit, pelit.”
Dita tidak menjawab. Wajahnya tampak memerah tersipu. Benar saja kata teman-teman. Dita itu cantik, sangat cantik bahkan menurutku. Kalau saja para siswi dari kelas satu sampai kelas tiga itu semua mengikuti kontes kecantikan, maka dialah yang menjadi ratunya. Sosoknya anggun memesona siapapun yang melihatnya. Hatiku berdesir. Aku berdiri mematung dan mulai berandai-andai. Astaghfirullah, aku tersadar dari fikiranku. Segera kurapikan berkas-berkas kegiatan tahun lalu yang tadi ku ambil dari lemari sebelum rapat dimulai. Dokumen itu aku butuhkan untuk bahan perbandingan dengan kegiatan sekarang. Aku merasa Dita mengawasi gerak-gerikku. Aku tidak berani menatap ke arahnya. Oh tidak, aku masih terbawa lamunan.
Bersambung
Karakter
Baron panggilan untuk  Bahruddin Roni; Franky panggilan untuk Bagus Anggito; Gendon panggilan untuk Sutarman; Dennis Ardiansyah; Bismo Ari Waskito; Ketua IRM Muhammad Ramdani dipanggil Dani; Irfan Abdurrahman; Fikri Jaelani; Pak Soleh guru Biologi; Pak Agus guru olahraga; Pak Sugeng guru matematika sekaligus pembina HW; Mbah Parni juru kunci dan kebersihan; Mbah Sur pemilik musolla;
Dita Prameswari; Nanda panggilan untuk Safira Nanda; Abil panggilan untuk Salsabila Putri; Risma Firdayanti; Ratih Widowati; Sekretaris IRM Rina Handayani; Sarah Habibah; Adelia Rizky; Bu Diah pemilik sawah; Pak Nur Petok pemilik kantin.

MENGAPA KITA BERQURBAN

1

Qurban dalam bahasa Arab artinya dekat, ibadah qurban artinya menyembelih hewan sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah qurban disebut juga “udhiyah” artinya hewan yang disembelih sebagai qurban. Firman Allah Swt. :

 

Maka dirikanlah shalat untuk Tuhanmu dan menyembelihlah”. (QS AlKautshar)

Keutamaan qurban dijelaskan oleh sebuah hadist A’isyah, Rasulullah s.a.w. bersabda :

 

 “Sebaik-baik amal bani adam bagi Allah di hari iedul adha adalah menyembelih qurban. Di hari kiamat hewan-hewan qurban tersebut menyertai bani adam dengan tanduk-tanduknya, tulang-tulang dan bulunya, darah hewan tersebut diterima oleh Allah sebelum menetes ke bumi dan akan membersihkan mereka yang melakukannya(H.R. Tirmizi, Ibnu Majah).

 

Dalam riwayat Anas bin Malik, Rasulullah menyembelih dua ekor domba putih bertanduk, beliau meletakkan kakinya di dekat leher hewan tersebut lalu membaca basmalah dan bertakbir dan menyembelihnya” (H.R. Tirmizi dll).

Hukum ibadah qurban, Mazhab Hanafi mengatakan wajib dengan dalil hadist Abu Haurairah yang menyebutkan Rasulullah s.a.w. bersabda “Barangsiapa mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan qurban, maka jangan lah ia mendekati masjidku” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah). Ini menunjukkan seuatu perintah yang sangat kuat sehingga lebih tepat untuk dikatakan wajib.

Mayoritas ulama mengatakan hukum qurban sunnah dan dilakukan setiap tahun bagi yang mampu. Mazhab syafi’i mengatakan qurban hukumnya sunnah ‘ain (menjadi tanggungan individu) bagi setiap individu sekali dalam seumur dan sunnah kifayah bagi sebuah keluarga besar, menjadi tanggungan seluruh anggota keluarga, namun kesunnahan tersebut terpenuhi bila salah satu anggota keluarga telah melaksanakannya. Dalil yang melandasi pendapat ini adalah riwayat Umi Salamah. Rasulullah s.a.w. bersabda :

 

Bila kalian melihat hilal dzul hijjah dan kalian menginginkan menjalankan ibadah qurban, maka janganlah memotong bulu dan kuku hewan yang hendak disembelih(H.R. Muslim),

 

hadist ini mengaitkan ibadah qurban dengan keinginan yang artinya bukan kewajiban. Dalam riwayat Ibnu ABbas Rasulullah s.a.w. mengatakan :

 

Tiga perkara bagiku wajib, namun bagi kalian sunnah, yaitu shalat witir, menyembelih qurban dan shalat iedul adha” (HR Ahmad dan Hakim)

Qurban disunnahkan kepada yang mampu. Ukuran kemampuan tidak berdasarkan kepada nisab, namun kepada kebutuhan per individu, yaitu apabila seseorang setelah memenuhi kebutuhan sehari-harinya masih memiliki dana lebih dan mencukupi untuk membeli hewan qurban, khususnya di hari raya iedul adha dan tiga hari tasyriq.

Dalam beribadah qurban harus disertai niat berqurban untuk Allah atas nama dirinya. Berqurban atas nama orang lain menurut mazhab Syafi’i mengatakan tidak sah tanpa seizin orang tersebut, demikian atas nama orang yang telah meninggal tidak sah bila tanpa dasar wasiat. Ulama Maliki mengatakan makruh berqurban atas nama orang lain. Ulama Hanafi dan Hanbali mengatakan sah saja berqurban untuk orang lain yang telah meninggal dan pahalanya dikirimkan kepada almarhum.

Dalam menyembelih qurban disunnahkan membaca bismillah, membaca sholawat untuk Rasulullah, menghadapkan hewan ke arah kiblat waktu menyembelih, membaca takbir sebelum basmalah dan sesudahnya serta berdoa “Ya Allah qurban ini dariMu dan untukMu”.

Wallahu A’lam

Indahnya Belajar Al Qur’an, Membaca dan Menghafalkannya

0

 خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَـلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ     [البخاري]

“ Sebaik-baik kalian adalah orang yang be-lajar Al Quran dan yang mengajarkannya “

 (Bukhori)

 الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ                       [متفق عليه]

“ Orang yang membaca Al Quran dan dia pandai membacanya maka (nanti di akhirat akan dikumpulkan) bersama para malaikat yang mulia, sedangkan orang yang membaca Al Quran dan dia terbata-bata karenanya serta kesusahan  maka baginya dua pahala “                              (Muttafaq alaih)

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ “آلـم” حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلاَمٌ حَرْفٌ، وَمِيْمٌ حَرْفٌ

[البخاري]

Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan akan dilipatkan gandakan sepuluh, saya tidak mengatakan (آلـم) satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf                                    (Bukhori)

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُحِبَّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ، فَلْيَقْرَأْ فِي الْمُصْحَفِ                               [صحيح البخاري]

“ Siapa senang dirinya mencintai Allah dan Rasul-Nya maka hendaklah dia membaca Mushhaf ini (Al Quran)  “             (Shahih Bukhori)

يُقَالُ لِصَاحِبِ القُرْآنِ: اِقْرَأْ، وَارْتَقِ، وَرَتِّلْ، كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا                                     [صحيح البخاري]

“ Dikatakan kepada orang yang suka membaca Al Quran : “Bacalah dan mendaki-lah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia, karena sesungguhnya kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau baca “

(Shahih Bukhori)

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ  ثَلاَثَ خَلِفَاتٍ، عِظَامٍ سِمَانٍ ؟ قُلْنَا : نَعَمْ : قَالَ : فَثَلاَثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ                 [مسلم]

Inginkah salah seorang diantara kalian yang kembali ke keluarganya membawa tiga ekor onta yang sedang hamil dan gemuk-gemuk?, kami berkata : Ya, maka beliau bersabda : tiga ayat yang kalian baca dalam shalat kalian itu lebih baik dari tiga ekor onta hamil yang gemuk.       

KEUTAMAAN BERDAKWAH DI JALAN ALLAH

0

 

 

قال الله تعالى : وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالحِاً وَقَالَ إِنَّنِيْ مِنَ المُسْلِمِيْنَ [فصلت : 33]

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri “                         (Fushshilat 33)

 

 وَاللهِ لأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ حُمُرُ النَّعَمِ                [مسلم]

“ Demi Allah, seandainya Allah memberi hidayah kepada seseorang atas perantara kamu maka (ganjarannya) lebih baik bagi kalian daripada kalian mendapatkan seekor onta merah[1])“                                     (Muslim)

 

 مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلَ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلىَ ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلَ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئاً                       [مسلم]

 

“ Siapa yang mengajak kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, dan siapa yang mengajak kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun “

(Muslim)


1. Onta merah adalah harta benda yang paling tinggi nilainya pada saat itu. (penterjemah)

Unromantic Tempurrejo

0
Pagi itu, jalanan Tempurrejo masih lengang. Dari pertigaan Tretes terlihat Gunung Lawu masih dengan anggunnya memamerkan kecantikannya. Sesekali terlihat ibu-ibu melintas dengan sepeda berkeranjang di boncengan, yang  penuh dengan dagangannya. Tujuannya satu, Pasar Bandung. Dari wajah mereka terlihat gurat-gurat semangat hidup, meski sebagian sudah mulai keriput. Namun, karena hampir setiap pagi mereka mengayuh sepeda Unto-nya, membelah halimun pagi, maka yang nampak hanyalah raut-raut kesegaran dan kebahagiaan. Memang disadari atau tidak, ini menjadi sarana olah raga untuk kebugaran mereka. Dan saat melintas di depan perguruan Muhammadiyah Tempurrejo, mereka seolah tersenyum, teringat anak-anak mereka yang tadi berangkat sekolah bersamaan dengan keberangkatan mereka ke pasar. Berharap, masa depan anak-anak mereka tak seperti orang tuanya.
Di komplek sekolah Muhammadiyah Tempurrejo juga masih sepi. Tetapi, sayup-sayup terdengar suara sapu lidi bergesekan dengan halaman yang penuh dengan sampah dedaunan. Pastilah itu Mbah Parni (Allah yarham, kami mendoakan agar Allah mengampuni, menyayangi dan mengangkat derajatmu Mbah –Amiin) yang sudah beraktifitas membersihkan halaman sekolah dibantu oleh para asistennya. Suara sapu itu syahdu mengalun seperti suara kontemplasi jiwa yang menentramkan. Memang beliau yang bertanggung jawab dengan kebersihan lingkungan sekolah. Jadi, setelah shalat subuh beliau sudah mulai bekerja, beradu cepat dengan burung Gereja yang masih enggan berkicau, beradu cepat dengan ibu-ibu pedagang pasar Bandung, beradu cepat dengan kedatangan para siswa. Dan tentunya, mengalahkan anak-anak pondok yang punya kebiasaan “mbangkong” selepas subuh. Hingga tak jarang mereka telat masuk sekolah karena bangun kesiangan.
Perlahan, seiring dengan selesainya Mbah Parni dengan rutinitasnya, sekolah mulai menampakkan geliatnya. Para siswa mulai berdatangan. Tidak hanya seragam abu-abu putih, biru putih dan putih-putihpun mulai berseliweran. Aliyah, Tsanawiyah dan Ibtidaiyah dalam satu zona membuat nuansa pendidikan sangatlah kental. Roman merekapun beragam. Ada yang piket sibuk membersihkan kelas, ada yang bercanda ria dengan teman sejawatnnya, ada pula yang serius membuka buku catatan temannya untuk meminjam jawaban PR. Ckckck. Siswa-siswi MI lebih aktif lagi. Sepagi itu, ada saja yang sudah ngos-ngosan dengan keringat bercucuran main kejar-kejaran. Anak yang kalem lebih memilih warung daripada kejar-kejaran. Walhasil, tangan kanan memegang setusuk cilok yang berlumuran saus, tangan kirinya menenteng sebungkus plastik minuman berwarna cerah.
Aku perhatikan satu per satu anak demi anak, teman-temanku belum muncul juga. Baron, Franky, Gendon dan Dennis tak satupun kelihatan. Dari ujung rumah Mbah Sur yang biasanya Gendon lewat situ, yang muncul justru para siswi dari Asrama Putri yang asyik membicarakan insiden BMX naik pohon Waru seminggu yang lalu. Dari arah Banyubiru Franky juga tidak muncul, yang ada malah ibu-ibu mengayuh sepeda Unto pulang dari pasar Bandung. Namun dari ujung jalan arah matahari terbit, si Dennis dengan langkah gagah seorang tentara, sudah terlihat. Aku sumringah menyambutnya.
Buru-buru aku menyapa sedikit berteriak, “Bro, buruan dong.”
Ia tak menjawab. Hanya lambaian tangan yang membalas. Baru setelah dekat Dennis bertanya, “Ada apa bro, kok kelihatannya gak enak banget mukamu?”
“Anak-anak belum pada nongol. Pada kemana ya?”
“Gatau. Emang napa?”
“Gapapa sih. Cuma aneh aja. Kan biasanya mereka rajin bro.”
“Alah biarin deuh, nanti juga dateng. Udah yuk ke kelas tuh dah bel.”
“Ayuk lah.”
Di kelas.
Baron, Gendon dan Franky belum hadir juga. Bangku mereka kosong. Masih beruntung, meski bel masuk sudah lima belas menit berlalu, guru juga belum ada. Aku dan Dennis mulai cemas. Berharap tidak terjadi apa-apa terkait dengan insiden BMX yang lalu. Sebab kemarin, Baron menerima sepucuk surat kaleng yang berisi ancaman dan tantangan. Sementara di luar, terdengar suara sepatu pantopel melangkah kian mendekat. Aku yakin itu pasti langkah guru. Wah celaka, kalau sampai guru sudah masuk kelas dan mereka telat masuk, pasti keanehan ini akan terdeteksi oleh guru.
Dan benar saja, pak guru biologi dengan seragam safari masuk ke kelas sambil mengucap salam.
“Assalamu’alaikum…”
Serempak semuanya menjawab, “Wa’alaikumussalaaaaaaaaaaam warahmatullaaaahi wabarokaaaaaaatuh…”
Setelah membuka kelas dengan do’a dan pengantar seperlunya, pak guru mulai memperhatikan tiga bangku yang kosong. Tatapannya penuh curiga. Aku dan Dennispun mulai cemas. Hmmm… semoga saja prediksi buruk itu tidak terjadi.